BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Tujuan Praktikum
a.
Untuk mengamati dan
mengidentifikasi morfologi cacing dan telur dari sebagian cacing yang diamati.
b.
Mengamati struktur, ukuran
serta bentuk cacing dan telur cacing.
.
1.2
Manfaat Praktikum
a. Mengetahui struktur dan bentuk dari cacing dan telur
cacing yang diamati.
b.
Mampu membedakan ciri
masing-masing klasifikasi cacing dan telur cacing.
BAB II
DASAR TEORI
2.1 Oxyuris Vermicularis
a.
Morfologi
Cacing dewasa berukuran kecil dan berwarna putih. Ukuran cacing betina 3-13mm x 0,4 mm. Pada ujung
anterior terdapat alae atau ada pelebaran kutikulum yang berbentuk seperti sayap . Bulbos esofagus
jelas terlihat, ekor panjang dan runcing. Uterus cacing yang gravid melebar dan
penuh dengan telur. Cacing jantan berukuran 2-5 mm, juga mempunyai sayap dan
ekornya melingkar berbentuk seperti tanda tanya. Makanannya adalah isi dari
usus. Cacing betina dapat bertelur sebanyak 11.000-15.000 telur setiap hari
selama 2-3 minggu. Ukuran telur micron.
Telur berbentuk asimetrik dan tidak berwarnabening, dinding telur bening dan
agak tebal.
Enterobius vermicularis atau cacing kermi yang biasanya terdapat
dalam cecum. Penularan pada anak kecil sering kali terjadi melalui autoreinfeksi,
yakni melalui telur-telur yang melekat pada jari-jari sewaktu menggaruk daerah
dubur yang dirasakan sangat gatal dan dengan demikian memungkinkan terjadinya
infeksi sekunder. Penyebabnya adalah cacing betina yang panjangnya 8-13 mm,
keluar dari dubur antara jam 8-9 malam untuk bertelur di kulit sekitar dubur.
Infeksi cacing kermi
adalah satu-satunya infeksi yang dapt ditularkan dari orang ke
orang, sehingga semua anggota keluarga
harus diobati serentak, walaupun tidak menunjukkan sebarang gejala. Ini karena,
cacing betina bertelur 3-6 minggu setelah infeksi. Setelah membuahi cacing
betina, cacing jantan biasanya mati dan mungkin akan keluar bersama tinja. Di
dalam cacing betina yang gravid, hampir seluruh tubuhnya dipenuhi telur dan
kemudian cacing dewasa betina bertelur pada bagian dubur dan sekitar kulit
bagian perianal. Diperkirakan juga bahwa setelah cacing betina meletakkan telur-telurnya,
cacing betina kembali masuk ke dalam usus, tetapi hal ini belum terbukti
(Garcia, 1996).
Gambar 2.1 Cacing Oxyuris Vermicularis
Klasifikasi Oxyuris vermicularis
Kingdom : Animalia
Filum :
Nematoda
Class :
Secernentea
Subclass : Spiruria
Ordho :
Oxyurida
Familly :
Oxyuridae
Genus : Enterobius
b.
Hospes dan distribusi
Hospes dari
cacing Oxyuring Vermicularis adalah
manusia.
Distribusi
geografiknya bersifat kosmopolir dan biasanya lebih banyak ditemukan didaerah dingin daripada
panas (Widyastuti, Retno. 2002)
c.
Patologi dan gejala klinis
Gejala
yang disebabkan yaitu iritasi disekitar sekum parineal dan vagina yang
dikarenakan cacing betina yang gravid bermigrasi kedaerah parineal sehingga
menyebabkan pruritus (gatal) lokal, karena cacing bermigrasi kedaerah anus. Kadang-kadang
cacing dewasa muda dapat bergerak ke usus halus bagian proksimal sampai ke
lambung, eusofagus dan hidung hingga menyebabkan gangguan di daerah tersebut. Cacing gravid betina bersarang di vagina dan di tuba fallopii hingga
menyebabkan radang disaluran telur (Natural
Vitality Centre, 2010).
2.2 Strongyloides stercoralis
a.
Morfologi
Cacing dewasa tidak
ditemukan pada manusia. A. braziliense
dewasa yang jantan panjangnya 4,7-6,3 mm, sedangkan yang betina panjangnya
6,1-8,4 mm. Mulutnya mempunyai sepasang gigi besar dan sepasans gigi kecil.
Cacing jantan mempunyai bursa kopulatrik kecil dengan rays pendek. A. caninum
jantan panjangnya 10 mm dan betinanya 14 mm. Mulutnya mempunyai 3 pasang gigi
besar. Cacing jantan mempunyai bursa kopulatrik besar dengan rays panjang dan
langsing. Secara tidak langsung dapat terinfeksi larva filariform melalui
penetrasi kulit dan selanjutnya larva mengembara di kulit (Onggowaluyo, J.S.
2002).
Gambar 2.2 Cacing Strongyloides
Stercoralis
Klasifikasi Strongyloides stercoralis
Phylum : Nemathelminthes
Class : Nematoda
Subclass : Adenophorea
Ordo : Enoplida
Super famili : Rhabiditoidea
Genus : Strongyloides
Species : Strongyloides stercoralis
b.
Hospes dan distribusi
Hospes dari Strongyloides Stercoralis
adalah manusia.
Distribusi geografiknya terdapat di daerah tropik dan subtropik,
sedangkan didaerah yang dingin jarang ditemukan (Soedarto. 1991)
c.
Patologi dan gejala kllinis
Pada manusia, larva tidak menjadi dewasa
dan menyebabkan kelainan kulit yang disebut creeping eruption, creeping disease
atau cutaneous larva migrans. Creeping eruption adalah suatu dermatitis dengan
gambaran khas berupa kelaianan intrakutan serpiginosa, yang antara lain
disebabkan Ancylostoma braziliense dan
Ancylostoma caninum. Pada tempat
larva filariform menembus kulit terjadi papel keras, merah dan gatal. Dalam
beberapa hari terbentuk terowongan intrakutan sempit yang tampak sebagai garis
merah, sedikit menimbul, gatal sekali dan bertambah panjang menurut gerakan
larva didalam kulit. Sepanjang garis yang berkelok-kelok terdapat
vesikel-vesikel kecil dan dapat terjadi infeksi sekunder karena kulit di garuk
(Padmasutra, Leshmana, dr. 2007)
2.3 Hymenolepis Nana
a.
Morfologi
Cacing dewasa hidup di usus halus untuk beberapa
minggu. Proglotid gravid melepaskan diri dari badan, telurnya dapat ditemukan
dalam tinja. Cacing ini tidak memerlukan hospes perantara. Bila telur tertelan
kembali oleh manusia atau tikus, maka di rongga usus halus telur menetas, larva
keluar dan masuk ke selaput lendir usus halus dan membentuk larva sistiserkoid,
kemudian keluar ke rongga usus dan menjadi dewasa dalam waktu 2 minggu atau
lebih. Orang dewasa kurang rentan dibandingkan dengan anak. Kadang-kadang telur
dapat menetas di rongga usus halus sebelum dilepaskan bersama tinja. Keadaan
ini disebut autoinfeksi interna. Hal ini memberi kemungkian terjadi infeksi
berat sekali yang disebut hiperinfeksi, sehingga cacing dewasa dapat mencapai
jumlah 2000 ekor pada seorang penderita (Prianto, Juni L, P.UTjahaya dan
Darwanto, 1994).
Gambar 2.3
Cacing Hymenolepis nana
Telur Hymenolopis nana
Telur Hymenolepis
nana bentuk bulat lonjong berukuran 30 x 47 mikron, dinding telur tipis,
pada kutub-kutub menebal, keluar 4–8 filamen dari kutub-kutubnya dan berisi
embrio heksakan (embrio dengan 3 pasang kait).
Gambar 2.4 Telur Hymenolepis nana
Klasifikasi Hymenolepis nana
Kingdom :
Animalia
Phylum
:
Platyhelminthes
Class
: Cestoda
Ordo
: Cyclophyllidea
Family
: Hymenolepididae
Genus
:
Hymenolepis
Species
: Hymenolepis nana
b.
Hospes dan distribusi
Hospes cacing hymenoleps nana adalah manusia dan tikus. Cacing pita ini tidak memerlukan
hospes perantara. Survey yang dilakukan di negara-negara menunjukkan frekuensi
dari 0,2- 3,7% walaupun di daerah-daerah tertentu 10% dari anak-anak menderita
infeksi ini. Di Amerika Serikat bagian selatan frekuensinya 0,3-2,9%. Infeksi
ini kebanyakan terbatas pada anak-anak dibawah umur 15 tahun. Infeksi
kebanyakan terjadi secara langsung dari tangan ke mulut. Frekuensinya agak
lebih tinggi pada anak laki-laki daripada anak perempuan dan presentase infeksi
pada orang negro kira-kira setengahnya dari bangsa kulit putih (Gandahusada, Srisasi,dkk, 2004).
c.
Patologi dan gejala klinis
Parasit ini biasanya tidak menyebabkan
gejala. Jumlah yang besar dari cacing yang menempel pada dinding usus halus
menimbulkan iritasi mukosa usus. Kelainan yang sering timbul adalah toksemia
umum karena penyerapan sisa metabolit dari parasit masuk kedalam sistem
peredaran darah penderita. Pada anak kecil dengan infeksi berat, cacing ini
kadang-kadang menyebabkan keluhan neurologi yang gawat, mengalami sakit perut
dengan atau tanpa diare, kejang-kejang, sukar tidur dan pusing. Eosinifilia
sebesar 8-16%. Sakit perut, obstipasi dan anoreksia merupakan gejala ringan
(Brown, Harold W, 1979).
2.4 Necator Americanus
a.
Morfologi
Cacing betina N.americanus tiap
hari mengeluarkan telur kira-kira sekitar 9000 butir, sedangkan A.deudenale kira-kira 10.000 butir.
Cacing betina berukuran panjang kurang lebih 1 cm, cacing jantan 0,8 cm. Bentuk
badan N.americanus biasanya
menyerupai huruf S, sedangkan A.duodenale
menyerupai huruf C. Rongga mulut kedua jenis cacing ini besar. N.americanus mempunyai benda kitin,
sedangkan pada A.duodenale ada dua
pasang gigi. Cacing jantan mempunyai bursa kopulatrik (Gandahusada, Srisasi,
Prof. dr. 2006).
Telur dikeluarkan dengan
tinja dan setelah menetas dalam waktu 1-1,5 hari, kelurlah larva rabditiform.
Dalam waktu kira-kira 3 hari larva rabditiform tumbuh menjadi larva
filoariform, yang dapat menembus kulit dan dapat hidup dalam 7-8 minggu di
tanah. Telur cacing tambang yang besarnya kira-kira 60x40 mikron, berbentuk
bujur dan mempunyai dinding tipis. Di dalamnya terdapat beberapa sel. Larva
rabditiform panjangnya kira-kira 250 mikron, sedangkan larva filariform panjangnya
kira-kira 600 mikron (Gandahusada, Srisasi, Prof. dr. 2006)
Gambar 2.5 Cacing Necator Americanus
Klasifikasi Necator Americanus
Kingdom : Animalia
Filum : Nematoda
Kelas : Secernentea
Ordo : Strongiloidae
Familli : Ancylostomatidae
Genus : Necator/Ancylostoma
Spesies : Necator Americanus dan Ancylostoma duodenale
b.
Hospes dan distribusi
Hospes definitif kedua
cacing ini, adalah manusia. Cacing ini tidak mempunyai hospes perantara.
Distribusinya ada
didalam usus halus terutama jejunum dan duodenum. Penyakit yang disebabkan oleh
parasit ini disebut Nekatoriasis dan Ankilostomiasis (Soedarto, 1996).
c.
Patologi dan gejala klinis
Stadium larva berupa bintik merah dan dapat menyebabkan gatal pada siklus
paru yag dapat menyebabkan pneomonia.
Stadium dewasa dapat
menyebabkan anemia hipokrom mikrosister dan eosinofila (Gandahusada, Srisasi,
Prof. dr. 2006).
2.5 Fasciola Hepatica Dewasa
a. Morfologi
Fasciola hepatica yang dikenal dengan cacing hati,
merupakan cacing trematoda yang mempunyai arti ekonomis karena akibat infeksi
cacing tersebut dapat menyebabkan kerugian yang cukup besar di Indonesia, yang
diperkirakan 5 sampai 7,5 juta kilogram hati yang harus dibuang (Edney dan
Mukhlis, 1962).
Kerugian tersebut juga disebabkan karena kesulitan
diagnosis, kurang berhasilnya pengobatan dan juga karena luasnya daerah
penyebaran. Di beberapa negara seperti Inggris dan Irlandia dilaporkan bahwa
akibat infeksi Fasciola hepatica
sebanyak 35% dan 75% hati harus
diafkir dari sapi
yang terinfeksi dan
sebanyak 6% dan
38% dari domba (Dargie,
1986).
Karakteristik Fasciola Hepatica
Kingdom :
Animalia
Phylum :
Platyhelminthes
Class :
Trematoda
Subclass :
Digenea
Order :
Prosostomata
Suborder :
Distomata
Family :
Fascioloidea
Genus :
Fasciola
Species :
F. Hepatica
Telur Fasciola Hepatica Dewasa
Telur Fasciola
Hepatica keluar dari tubuh hospes bersama feses.
Bentuk telur ovoid dan mempunyai operculum.
Telur Fasciola Hepatica dapat tahan hidup selama dua sampai tiga bulan dalam
lingkungan yang lembab, namun akan cepat mati karena kekeringan, dalam
beberapa bulan atau mungkin hanya dalam beberapa jam (Troncy et al.,
1981).
Di dalam cangkang telur, miracidium yang sedang atau
sudah berkembang dikelilingi oleh globules kuning telur yang terbungkus oleh
membran vitelina. Membran tersebut terbentuk pada waktu perkembangan miracidium dengan cara penyatuan permukaan
sel-sel somatik. Sinar matahari memacu miracidium untuk mengeluarkan enzim proteolitik yang dapat melarutkan zat perekat di tempat menempelnya
operculum. Enzim ini dapat menyebabkan operculum lepas terdorong keluar, sehingga
miracidium keluar (Wardiarto, P, 1995).
Gambar 2.6 Telur
Fasciola Hipatica
b. Hospes dan distribusi
Cacing Fasciola
Hepatica berasal dari luar negeri bersama-sama sapi perah yang diimpor dari
Belanda masuk ke Indonesia (Anonimous, 1980). Distribusi banyak ditemukan
berparasit pada hewan ternak diIndonesia (Kusumamihardja, 1993).
c. Patologi
dan gejala klinis
Infeksi yang berat pada domba dapat
menyebabkan penurunan berat badan
dan kematian. Dengan infeksi cacing
F.
hepatica dewasa sebanyak
87-500 ekor dapat menurunkan berat badan sebesar 0,13-0,30 kg/minggu pada domba
(Coop dan Rushton dalam Dargie, 1986).
Demikian juga yang terjadi pada anak sapi dengan
infeksi cacing dewasa sebanyak 440 ekor dapat menurunkan berat badan dan
makin besar penurunan
berat badan anak
sapi tersebut terutama
bila terjadi pada
akhir musim gugur (Burden et al.
dalam Dargie, 1986).
2.6 Cacing Tambang
a. Morfologi
Cacing betina berukuran panjang kurang
lebih 1 cm, cacing jantan kurang lebih 0,8 cm. Bentuk badan Necator Americanus biasanya menyerupai
huruf S, sedangkan Ancylostoma duodenale
menyerupai huruf C. Rongga mulut kedua jenis cacing ini besar. Necator Americanus mempunyai benda
kitin, sedangkan pada Ancylostoma
duodenale ada dua pasang gigi. Cacing jantan mempunyai kopulatriks. (
Gandahusada, 1988).
Cacing dewasa hidup di rongga usus halus, dengan
mulutnya melekat pada mukosa dinding usus. Cacing betina menghasilkan 9.000 –
10.000 butir telur perhari. Cacing betina mempunyai panjang 1 cm, cacing jantan
kira-kira 0,8 cm. cacing dewasa berbentuk huruf S atau C dan didalam mulutnya
ada sepasang gigi. Rongga mulutnya sangat besar. Cacing jantan mempunyai bursa
kopulatriks. Telur cacing tambang besarnya kira-kira 60 x 40 mikron, berbentuk
bujur dan mempunyai dinding yang tipis dan di dalamnya terdapat beberapa sel.
Larva rabditiform panjangnya kira-kira 250 mikron, sedangkan larva filariform
panjangnya kira-kira 600 mikron.
Daur hidup Ancylostoma duodenale yaitu telur cacing dikeluarkan bersama feses
dalam waktu 1-2 hari di dalam tanah, telur tersebut akan menetas menjadi larva
rabditiform. Dalam waktu sekitar tiga hari larva rabditiform tumbuh menjadi
larva filariform, yang dapat menembus kulit dan dapat bertahan hidup 7-8 minggu
di tanah. Setelah menembus kulit, larva ikut masuk melalui aliran darah menuju
jantung terus ke paru-paru. Di paru-paru larva menembus pembuluh darah masuk ke
bronkus lalu ke trakea dan laring. Dari laring, larva ikut tertelan dan masuk
ke dalam usus halus dan menjadi cacing dewasa.
Gambar 2.7 cacing Necator Americanus dan Ankylostoma
d.
Telur Cacing
Tambang
Telur cacing tambang berukuran kurang
lebih 55 x 35 mikron, bentuknya bulat oval dengan selapis dinding yang
transparan dari bahan hialin. Sel telur yang belum berkembang tampak seperti
kelopak bunga. Dalam perkembangan lebih lanjut dapat berisi larva yang siap
untuk ditetaskan.
Gambar telur 2.8 Ankylostoma duodenale
b. Hospes dan distribusi
Hospes definitif kedua cacing Necator Americanus dan Ankylostoma
duodinale adalah manusia. Cacing ini tidak mempunyai hospes perantara.
Distribusinya ada di dalam usus halus terutama jejunum
dan duodenum. Penyakit yang disebabkan oleh parasit ini disebut Nekatoriasis
dan Ankilostomiasis (Soedarto, 1996).
c. Patogen dan gejala klinis
Gejala klinis yaitu lesu, pucat, tidak
bergairah, konsentrasi belajar kurang, pucat, rentan terhadap penyakit,
prestasi menurun dan anemia. Di samping itu terdapat eosinofilia (Soedarto,
1996).
2.7 Clonorchis Sinensis
a. Morfologi
Cacing dewasa berbentuk pipih dan lonjong
menyerupaidaun. Bagian posteriornya membulat dan pada integumennya tidak
ditemukan duri. Ukuran cacing dewasa 10 –25 x 3 – 5 mm, batilisap kepala lebih
besar dari batil isap perut. Testes berlobus dalamtersusun membentuk tandem dan
terletak di bagian posterior tubuh. Ovarium terletak di anterior testes pada
garis tengah tubuh. Porusgenitalis di depan, dekat pada batil isap perut.
Uterus berkelok-kelok berisi telur dan bermuara pada porus genitalis. Fitelaria
membentuk folikel-folikel (lembut) dan terletak di lateral tubuh (Widyastuti, Retno. 2002).
Telur Clonorchis Sinensis
Telur parasit ini berbentuk oval seperti
kendi, operculum besar,konvek dan bagian posterior menebal. Ukuran telur 28-35
x 12-19 mikron berisi mirasidium. (Onggowaluyo, 2001)
Gambar 2.9
Telur Clonorchis Sinensis
Klasifikasi Cloronchis Sinensis
Kingdom : Animalia
Phylum : Platyhelminthes
Class : Trematoda
Order : Opisthorchiida
Family : Opisthorchiidae
Genus : Clonorchis
Species : Clonorchis
Sinensi
b. Hospes dan distribusi
Hospes parasit ini adalah manusia. Selain
manusia, hospes parasit ini adalah anjing, kucing, babi, beruang kutub dan
pernahdilaporkan juga bahwa parasit ini ditemukan pada angsa. Hospes perantara
I parasit ini adalah keong air genus Bulinus,Semisulcospira, Alocinna,
Parafossarulus, Tiara atau Hua,sedangkan hospes perantara II adalah family
Cyprinidae.
(Onggowaluyo, 2001).
Persebaran cacing ini ditemukan di Cina, Jepang,
Korea, danVietnam. Sedangkan di Indonesia, penyakit yang ditemukankebanyakan
tidak merupakan infeksi autokton (Bagian Parasitologi FKUI,1998).
c. Patologi
dan gejala klinis
Gejala yang dialami penderita klonorkiasis
adalah akibat dari rangsangan mekanik dan sekresi toksin oleh cacing. Pada awal
infeksi terjadi lekositosis ringan dan eosinofilia. Apabila terjadi
hiperinfeksi dari jumlah cacing yang banyak maka dapat menimbulkan sirosis,
tubuh lemah, ikterus, anemia, berat badan menurun, edema, gangguan pencernaan,
rasa tidak enak didaerah epigastrum dandiare. Gejala selanjutnya palpitasi,
vertigo dan sepresi mental. Penyakit ini dapat mengakibatkan kematian karena
adanya penurunan daya tahan tubuh yang drastis (Onggowaluyo, 2001)
BAB III
METODE PRAKTIKUM
3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
a. Mikroskop
b. Alat Tulis
c. Buku Gambar A4
d. Pensil Warna
3.1.2 Bahan
a. Telur Fasciola
Hepatica Dewasa
b.
Telur Hymenolepis Nana
c. Telur Cacing Tambang
d. Telur Clonorhis
Sinensis
e. Cacing Oxyuris
Vermicularis
f. Cacing Neator
Americanus
g. Cacing Strongyloides
Stercoralis
|
Menyiapkan
Alat dan Bahan
|
|
Menggambar
cacing dan telur cacing dikertas gambar A4
|
|
Melakukan
pengamata preparat cacing dan telur cacing
|
|
Mewarnai
gambar cacing dan telur cacing yang kita amati
|
|
Ulang
kembali langkah dari skema ke dua sampai ke empat
|
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan
|
Telur Fasciola Hepatica
|
|
|
|
Ukuran
: ± 140 x 80 mikron
|
|
Bentuk
: Operkulum kecil berisi morula
|
|
Warna
telur : kecoklatan
|
Tabel 4.1 Hasil
Pengamatan Telur Fasciola Hepatica
|
Telur Hymenolepis nana
|
|
|
|
Ukuran
: ± 47 x 37 mikron
|
|
Bentuk
: Bulan atau Bujur
|
|
Berisi
: Embrio Heksakan
|
|
Warna
telur : Kuning keemasan
|
Tabel 4.2 Hasil Pengamatan Telur Hymenolepis nan
|
Telur Cacing Tambang
|
|
|
|
Ukuran
: ± 70 x 15 mikron
|
|
Bentuk
: Bulat lonjong berdinding tipis
|
|
Berisi
: Beberapa sel
|
|
Warna
telur : Merah Muda
|
Tabel.4.3 Hasil Pengamatan Telur cacing Tambang
|
Telur Cacing Clonorchis Sinensis
|
|
|
|
Ukuran
: ± 29 x 16 mikron
|
|
Bentuk
: seperti kendi
|
|
Berisi
: Mirisidium
|
|
Warna
telur : coklat
|
Tabel 4.4 Hasil Pengamatan Telur Cacing Clonorchis Sinensis
|
Cacing Oxyuring
Vermiclaris betina
|
|
|
|
Ukuran cacing : panjang ± 3-13mm x 0,4 mm
|
|
Warna
Cacing : kecoklatan
|
|
Dx
penyakit : Oksiuriasis atau Enterobiasis
|
Tabel 4.5 Hasil Pengamatan Cacing Oxyuring Vermiclaris betina
|
Cacing Necator Americanus
|
|
|
|
Ukuran
: Panjang ± 1 cm
|
|
Warna
cacing : orange kemerahan
|
|
Dx.
Penyakit : Nekatorisis dan ankilostomiasis
|
Tabel 4.6 Hasil Pengamatan Cacing Necator Americanus
|
Cacing Strongyloides
Stercoralis
|
|
|
|
Ukuran
: panjang ± 6,1-8,4 mm.
|
|
Warna
: orange kecoklatan
|
|
Bentuk
: Parasiter
|
|
Dx.
Penyakit : Strongylodiasis
|
Tabel 4.7 Hasil Pengamatan Cacing Strongyloides Stercoralis
4.2 Pembahasan
4.2.1
Telur Fasciola Hepatica
Dari hasil yang telah diamati
dengan menggunakan mikroskop bahwa telur
Fasciola Hepatica berbentuk
operkulum kecil yang berisi morula dan telurnya berwarna kecoklatan.
4.2.2
Telur Hymenolepis nana
Dari hasil yang telah diamati
dengan menggunakan mikroskop bahwa telur Hymenolepis nana berbentuk bulan atau
bujur, dengan ukuran telurnya ± 47 x 37 mikron yang berisi embrio heksakan.
Terlurnya berwarna kuning keemasan.
4.2.3
Telur Cacing Tambang
Dari hasil yang telah diamati
dengan menggunakan mikroskop bahwa telur cacing tambang memiliki bentuk yang
bulat lonjong, berwarna merah muda yang berisi beberpa sel, dimana telur
berdinding tipis dengan ukuran telur 70 x 15 mikron.
4.2.4 Telur
Cacing Clonorchis Sinensis
Dari hasil yang telah
diamati dengan menggunakan mikroskop menunjukkan bahwa telur cacing clonorchis Sinensis memiliki bentuk
seperti kendi yang berwarna kecoklatan berisi merisidium dengan ukuran
telur ± 29 x 16 mikron.
4.2.5
Cacing Oxyuring Vermiclaris betina
Dari hasil yang telah
diamati dengan menggunakan mikroskop menunjukkan bahwa cacing Oxyuris Vermicularis betina memiliki
panjang dengan ukuran ± 3-13mm x 0,4 mm, berwarna keokltan serta cacing ini dapat
menyebabkan penyakit oksiuriasis atau enterobiasis.
4.2.6
Cacing Necator Americanus
Dari hasil yang telah
diamati dengan menggunakan mikroskop menunjukkan bahwa cacing Necator Americanus memiliki panjang
dengan ukuran ± 1 cm, berwarna orange kemerahan, serta cacing ini dapat
menyebabkan penyakit necatoriasis dan ankilostomiasis.
4.2.7
Cacing Strongloides Stercoralis dewasa
Dari hasil yang telah
diamati dengan menggunakan mikroskop menunjukkan bahwa cacing Strongyloides Stercoralis dewasa
memiliki bentuk parasiter dengan ukuran panjang ± 6,1-8,4 mm. Berwarna orange
kecoklatan Serta cacing ini dapat menyebabkan penyakit Strongylodiosis.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari praktikum yang
telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1.
Telur cacing Fasciola Hepatica dewasa memiliki
struktur tubuh berukran ± 140 x 80 mikron berbentuk seperti operkulum kecil
yang berisi morula dan telurnya berwarna kecoklatan. Dan biasa hidup sebagai
parasit pada hewan ternak.
2.
Telur Hymenolepis nana memiliki struktur tubuh berukuran ± 47 x 37 mikron, berbentuk seperti bulan atau bujur
berisi embrio hekakan berwarna kuning keemasan.
3.
Telur cacing tambang memiliki
struktur tubuh berukuran ± 70 x 15 mikron, bentuk telur bulat lonjong, yang
berisi beberpa sel, dimana telur berdinding tipis, berwarna merah muda.
4.
Telur cacing Clonorchis Sinensis memiliki struktur
tubuh berukuran ± 29 x 16 mikron, bentuk telur seperti kendi yang berwarna
kecoklatan berisi merisidium.
5.
Cacing Oxyuris Vermicularis betina memiliki struktur tubuh dengan panjang ukuran
± 3-13mm x 0,4 mm, lebih banyak
ditemukan didaerah dingin daripada panas serta cacing ini dapat menyebabkan
penyakit oksiuriasis atau enterobiasis.
6.
Cacing Necator Americanus memiliki stuktur tubuh dengan panjang ukuran
tubuhnya ± 1 cm, banyak terdapat usus halus terutama jejunum dan duodenum.
Serta cacing ini dapat menyebabkan penyakit necatoriasis dan ankilostomiasis.
7.
Cacing Strongyloides Steroralis memiliki struktur tubuh berukuran panjang
± 6,1-8,4 mm. Banyak ditemukan didaerah berikim tropis maupun subtropis. Serta
cacing ini dapat menyebabkan penyakit Strongylodiosis.
5.2 Saran
a.
Lebih serius dalam mendengarkan
arahan dari dosen maupun asisten dosen dalam mengarahkan kegiata praktikum,
supaya dapat mengerti dan memahami apa yang harus dikerjakan.
b. Lebih fokus lagi dalam mengamati cacing dan telur
cacing, supaya bisa lebih mengetahui bentuk, struktur tubuh dan warna dari cacing
dan telur cacing tersebut.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar