Jumat, 15 Maret 2013

LAPORAN AGEN PENYAKIT



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Tujuan Praktikum
a.       Untuk mengamati dan mengidentifikasi morfologi cacing dan telur dari sebagian cacing yang diamati.
b.      Mengamati struktur, ukuran serta bentuk cacing dan telur cacing.
.
1.2  Manfaat Praktikum
a.        Mengetahui struktur dan bentuk dari cacing dan telur cacing yang diamati.
b.      Mampu membedakan ciri masing-masing klasifikasi cacing dan telur cacing.









BAB II
DASAR TEORI
2.1 Oxyuris Vermicularis
a.      Morfologi   
Cacing dewasa berukuran kecil dan berwarna putih. Ukuran  cacing betina 3-13mm x 0,4 mm. Pada ujung anterior terdapat alae atau ada pelebaran kutikulum yang  berbentuk seperti sayap . Bulbos esofagus jelas terlihat, ekor panjang dan runcing. Uterus cacing yang gravid melebar dan penuh dengan telur. Cacing jantan berukuran 2-5 mm, juga mempunyai sayap dan ekornya melingkar berbentuk seperti tanda tanya. Makanannya adalah isi dari usus. Cacing betina dapat bertelur sebanyak 11.000-15.000 telur setiap hari selama 2-3 minggu. Ukuran telur  micron. Telur berbentuk asimetrik dan tidak berwarnabening, dinding telur bening dan agak tebal.                                                                                                                                                                                Enterobius vermicularis atau cacing kermi yang biasanya terdapat dalam cecum. Penularan pada anak kecil sering kali terjadi melalui autoreinfeksi, yakni melalui telur-telur yang melekat pada jari-jari sewaktu menggaruk daerah dubur yang dirasakan sangat gatal dan dengan demikian memungkinkan terjadinya infeksi sekunder. Penyebabnya adalah cacing betina yang panjangnya 8-13 mm, keluar dari dubur antara jam 8-9 malam untuk bertelur di kulit sekitar dubur. Infeksi  cacing  kermi  adalah  satu-satunya  infeksi yang dapt ditularkan dari orang ke orang, sehingga semua anggota  keluarga harus diobati serentak, walaupun tidak menunjukkan sebarang gejala. Ini karena, cacing betina bertelur 3-6 minggu setelah infeksi. Setelah membuahi cacing betina, cacing jantan biasanya mati dan mungkin akan keluar bersama tinja. Di dalam cacing betina yang gravid, hampir seluruh tubuhnya dipenuhi telur dan kemudian cacing dewasa betina bertelur pada bagian dubur dan sekitar kulit bagian perianal. Diperkirakan juga bahwa setelah cacing betina meletakkan telur-telurnya, cacing betina kembali masuk ke dalam usus, tetapi hal ini belum terbukti (Garcia, 1996).
  Gambar 2.1 Cacing Oxyuris Vermicularis
Klasifikasi Oxyuris vermicularis
Kingdom         : Animalia
Filum               : Nematoda
Class                : Secernentea
Subclass          : Spiruria
Ordho              : Oxyurida
Familly             : Oxyuridae
Genus               : Enterobius


b.      Hospes dan distribusi
Hospes dari cacing Oxyuring Vermicularis adalah manusia.
Distribusi geografiknya bersifat kosmopolir dan biasanya lebih  banyak ditemukan didaerah dingin daripada panas (Widyastuti, Retno. 2002)
c.       Patologi dan gejala klinis
Gejala yang disebabkan yaitu iritasi disekitar sekum parineal dan vagina yang dikarenakan cacing betina yang gravid bermigrasi kedaerah parineal sehingga menyebabkan pruritus (gatal) lokal, karena cacing bermigrasi kedaerah anus. Kadang-kadang cacing dewasa muda dapat bergerak ke usus halus bagian proksimal sampai ke lambung, eusofagus dan hidung hingga menyebabkan gangguan di daerah tersebut. Cacing gravid betina bersarang di vagina dan di tuba fallopii hingga menyebabkan radang disaluran telur (Natural Vitality Centre, 2010).
2.2 Strongyloides stercoralis
a.      Morfologi
Cacing dewasa tidak ditemukan pada manusia. A. braziliense dewasa yang jantan panjangnya 4,7-6,3 mm, sedangkan yang betina panjangnya 6,1-8,4 mm. Mulutnya mempunyai sepasang gigi besar dan sepasans gigi kecil. Cacing jantan mempunyai bursa kopulatrik kecil dengan rays pendek. A. caninum jantan panjangnya 10 mm dan betinanya 14 mm. Mulutnya mempunyai 3 pasang gigi besar. Cacing jantan mempunyai bursa kopulatrik besar dengan rays panjang dan langsing. Secara tidak langsung dapat terinfeksi larva filariform melalui penetrasi kulit dan selanjutnya larva mengembara di kulit (Onggowaluyo, J.S. 2002).
 
Gambar 2.2 Cacing Strongyloides Stercoralis
Klasifikasi Strongyloides stercoralis
Phylum            : Nemathelminthes 
Class                : Nematoda
Subclass          : Adenophorea
Ordo                : Enoplida
Super famili     : Rhabiditoidea
Genus              : Strongyloides
Species            : Strongyloides stercoralis
b.      Hospes dan distribusi
Hospes dari Strongyloides Stercoralis adalah manusia.
Distribusi geografiknya terdapat di daerah tropik dan subtropik, sedangkan didaerah yang dingin jarang ditemukan (Soedarto. 1991)



c.       Patologi dan gejala kllinis
Pada manusia, larva tidak menjadi dewasa dan menyebabkan kelainan kulit yang disebut creeping eruption, creeping disease atau cutaneous larva migrans. Creeping eruption adalah suatu dermatitis dengan gambaran khas berupa kelaianan intrakutan serpiginosa, yang antara lain disebabkan Ancylostoma braziliense dan Ancylostoma caninum. Pada tempat larva filariform menembus kulit terjadi papel keras, merah dan gatal. Dalam beberapa hari terbentuk terowongan intrakutan sempit yang tampak sebagai garis merah, sedikit menimbul, gatal sekali dan bertambah panjang menurut gerakan larva didalam kulit. Sepanjang garis yang berkelok-kelok terdapat vesikel-vesikel kecil dan dapat terjadi infeksi sekunder karena kulit di garuk (Padmasutra, Leshmana, dr. 2007)
2.3 Hymenolepis Nana
a.      Morfologi
Cacing dewasa hidup di usus halus untuk beberapa minggu. Proglotid gravid melepaskan diri dari badan, telurnya dapat ditemukan dalam tinja. Cacing ini tidak memerlukan hospes perantara. Bila telur tertelan kembali oleh manusia atau tikus, maka di rongga usus halus telur menetas, larva keluar dan masuk ke selaput lendir usus halus dan membentuk larva sistiserkoid, kemudian keluar ke rongga usus dan menjadi dewasa dalam waktu 2 minggu atau lebih. Orang dewasa kurang rentan dibandingkan dengan anak. Kadang-kadang telur dapat menetas di rongga usus halus sebelum dilepaskan bersama tinja. Keadaan ini disebut autoinfeksi interna. Hal ini memberi kemungkian terjadi infeksi berat sekali yang disebut hiperinfeksi, sehingga cacing dewasa dapat mencapai jumlah 2000 ekor pada seorang penderita (Prianto, Juni L, P.UTjahaya dan Darwanto, 1994).
         Gambar 2.3 Cacing Hymenolepis nana  
Telur Hymenolopis nana
Telur Hymenolepis nana bentuk bulat lonjong berukuran 30 x 47 mikron, dinding telur tipis, pada kutub-kutub menebal, keluar 4–8 filamen dari kutub-kutubnya dan berisi embrio heksakan (embrio dengan 3 pasang kait).
                        Gambar 2.4 Telur Hymenolepis nana        



Klasifikasi Hymenolepis nana
Kingdom            : Animalia
Phylum               : Platyhelminthes
Class                  : Cestoda
Ordo                  : Cyclophyllidea
Family                : Hymenolepididae
Genus                 : Hymenolepis
Species               : Hymenolepis nana
b.    Hospes dan distribusi
Hospes cacing hymenoleps nana adalah manusia dan tikus. Cacing pita ini tidak memerlukan hospes perantara. Survey yang dilakukan di negara-negara menunjukkan frekuensi dari 0,2- 3,7% walaupun di daerah-daerah tertentu 10% dari anak-anak menderita infeksi ini. Di Amerika Serikat bagian selatan frekuensinya 0,3-2,9%. Infeksi ini kebanyakan terbatas pada anak-anak dibawah umur 15 tahun. Infeksi kebanyakan terjadi secara langsung dari tangan ke mulut. Frekuensinya agak lebih tinggi pada anak laki-laki daripada anak perempuan dan presentase infeksi pada orang negro kira-kira setengahnya dari bangsa kulit putih (Gandahusada, Srisasi,dkk, 2004).
c.    Patologi dan gejala klinis
Parasit ini biasanya tidak menyebabkan gejala. Jumlah yang besar dari cacing yang menempel pada dinding usus halus menimbulkan iritasi mukosa usus. Kelainan yang sering timbul adalah toksemia umum karena penyerapan sisa metabolit dari parasit masuk kedalam sistem peredaran darah penderita. Pada anak kecil dengan infeksi berat, cacing ini kadang-kadang menyebabkan keluhan neurologi yang gawat, mengalami sakit perut dengan atau tanpa diare, kejang-kejang, sukar tidur dan pusing. Eosinifilia sebesar 8-16%. Sakit perut, obstipasi dan anoreksia merupakan gejala ringan (Brown, Harold W, 1979).

2.4  Necator Americanus
a.      Morfologi
Cacing betina N.americanus tiap hari mengeluarkan telur kira-kira sekitar 9000 butir, sedangkan A.deudenale kira-kira 10.000 butir. Cacing betina berukuran panjang kurang lebih 1 cm, cacing jantan 0,8 cm. Bentuk badan N.americanus biasanya menyerupai huruf S, sedangkan A.duodenale menyerupai huruf C. Rongga mulut kedua jenis cacing ini besar. N.americanus mempunyai benda kitin, sedangkan pada A.duodenale ada dua pasang gigi. Cacing jantan mempunyai bursa kopulatrik (Gandahusada, Srisasi, Prof. dr. 2006).
Telur dikeluarkan dengan tinja dan setelah menetas dalam waktu 1-1,5 hari, kelurlah larva rabditiform. Dalam waktu kira-kira 3 hari larva rabditiform tumbuh menjadi larva filoariform, yang dapat menembus kulit dan dapat hidup dalam 7-8 minggu di tanah. Telur cacing tambang yang besarnya kira-kira 60x40 mikron, berbentuk bujur dan mempunyai dinding tipis. Di dalamnya terdapat beberapa sel. Larva rabditiform panjangnya kira-kira 250 mikron, sedangkan larva filariform panjangnya kira-kira 600 mikron (Gandahusada, Srisasi, Prof. dr. 2006)
 
Gambar 2.5 Cacing Necator Americanus

Klasifikasi Necator Americanus
Kingdom   : Animalia
Filum         : Nematoda
Kelas         : Secernentea
Ordo          : Strongiloidae
Familli       : Ancylostomatidae
Genus        : Necator/Ancylostoma
Spesies      : Necator Americanus dan Ancylostoma duodenale
b.      Hospes dan distribusi
Hospes definitif kedua cacing ini, adalah manusia. Cacing ini tidak mempunyai hospes perantara.
Distribusinya ada didalam usus halus terutama jejunum dan duodenum. Penyakit yang disebabkan oleh parasit ini disebut Nekatoriasis dan Ankilostomiasis (Soedarto, 1996).
c.       Patologi dan gejala klinis
Stadium larva berupa bintik merah dan dapat menyebabkan gatal pada siklus paru yag dapat menyebabkan pneomonia.
Stadium dewasa dapat menyebabkan anemia hipokrom mikrosister dan eosinofila (Gandahusada, Srisasi, Prof. dr. 2006).
2.5 Fasciola Hepatica Dewasa
a. Morfologi
Fasciola hepatica yang dikenal dengan cacing hati, merupakan cacing trematoda yang mempunyai arti ekonomis karena akibat infeksi cacing tersebut dapat menyebabkan kerugian yang cukup besar di Indonesia, yang diperkirakan 5 sampai 7,5 juta kilogram hati yang harus dibuang (Edney dan Mukhlis, 1962).
Kerugian tersebut juga disebabkan karena kesulitan diagnosis, kurang berhasilnya pengobatan dan juga karena luasnya daerah penyebaran. Di beberapa negara seperti Inggris dan Irlandia dilaporkan bahwa akibat infeksi Fasciola hepatica sebanyak 35% dan 75%  hati  harus  diafkir  dari  sapi  yang  terinfeksi  dan  sebanyak  6%  dan  38%  dari domba  (Dargie,  1986). 
Karakteristik Fasciola Hepatica
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Platyhelminthes
Class                : Trematoda
Subclass          : Digenea
Order               : Prosostomata
Suborder         : Distomata
Family             : Fascioloidea
Genus              : Fasciola
Species            : F. Hepatica

Telur Fasciola Hepatica Dewasa
Telur Fasciola Hepatica keluar dari tubuh hospes  bersama  feses.  Bentuk  telur ovoid dan mempunyai operculum. Telur Fasciola Hepatica dapat  tahan hidup selama dua sampai tiga bulan dalam lingkungan  yang  lembab, namun akan cepat mati karena kekeringan,  dalam  beberapa bulan atau mungkin hanya dalam beberapa jam (Troncy et al., 1981).
Di dalam cangkang telur, miracidium yang sedang atau sudah berkembang dikelilingi oleh globules kuning telur yang terbungkus oleh membran vitelina. Membran tersebut terbentuk pada waktu perkembangan  miracidium dengan cara penyatuan permukaan sel-sel somatik. Sinar matahari memacu miracidium untuk mengeluarkan enzim proteolitik  yang dapat melarutkan zat perekat di tempat menempelnya operculum. Enzim ini dapat menyebabkan operculum lepas terdorong keluar, sehingga miracidium keluar (Wardiarto, P, 1995).

     Gambar 2.6 Telur Fasciola Hipatica
b. Hospes dan distribusi
Cacing Fasciola Hepatica berasal dari luar negeri bersama-sama sapi perah yang diimpor dari Belanda masuk ke Indonesia (Anonimous, 1980). Distribusi banyak ditemukan berparasit pada hewan ternak diIndonesia (Kusumamihardja,  1993). 
c.  Patologi dan gejala klinis
Infeksi yang berat pada domba dapat menyebabkan penurunan berat badan  dan  kematian. Dengan infeksi  cacing  F.  hepatica  dewasa sebanyak 87-500 ekor dapat menurunkan berat badan sebesar 0,13-0,30 kg/minggu pada domba (Coop dan Rushton dalam Dargie, 1986).
Demikian juga yang terjadi pada anak sapi dengan infeksi cacing dewasa sebanyak 440 ekor dapat menurunkan berat badan  dan  makin  besar  penurunan  berat  badan  anak  sapi  tersebut  terutama  bila  terjadi  pada  akhir  musim gugur (Burden et al. dalam Dargie, 1986).




2.6 Cacing Tambang
       a. Morfologi
Cacing betina berukuran panjang kurang lebih 1 cm, cacing jantan kurang lebih 0,8 cm. Bentuk badan Necator Americanus biasanya menyerupai huruf S, sedangkan Ancylostoma duodenale menyerupai huruf C. Rongga mulut kedua jenis cacing ini besar. Necator Americanus mempunyai benda kitin, sedangkan pada Ancylostoma duodenale ada dua pasang gigi. Cacing jantan mempunyai kopulatriks. ( Gandahusada, 1988).
Cacing dewasa hidup di rongga usus halus, dengan mulutnya melekat pada mukosa dinding usus. Cacing betina menghasilkan 9.000 – 10.000 butir telur perhari. Cacing betina mempunyai panjang 1 cm, cacing jantan kira-kira 0,8 cm. cacing dewasa berbentuk huruf S atau C dan didalam mulutnya ada sepasang gigi. Rongga mulutnya sangat besar. Cacing jantan mempunyai bursa kopulatriks. Telur cacing tambang besarnya kira-kira 60 x 40 mikron, berbentuk bujur dan mempunyai dinding yang tipis dan di dalamnya terdapat beberapa sel. Larva rabditiform panjangnya kira-kira 250 mikron, sedangkan larva filariform panjangnya kira-kira 600 mikron.
Daur hidup Ancylostoma duodenale yaitu telur cacing dikeluarkan bersama feses dalam waktu 1-2 hari di dalam tanah, telur tersebut akan menetas menjadi larva rabditiform. Dalam waktu sekitar tiga hari larva rabditiform tumbuh menjadi larva filariform, yang dapat menembus kulit dan dapat bertahan hidup 7-8 minggu di tanah. Setelah menembus kulit, larva ikut masuk melalui aliran darah menuju jantung terus ke paru-paru. Di paru-paru larva menembus pembuluh darah masuk ke bronkus lalu ke trakea dan laring. Dari laring, larva ikut tertelan dan masuk ke dalam usus halus dan menjadi cacing dewasa.
Gambar 2.7 cacing Necator Americanus dan Ankylostoma d.
            Telur Cacing Tambang
Telur cacing tambang berukuran kurang lebih 55 x 35 mikron, bentuknya bulat oval dengan selapis dinding yang transparan dari bahan hialin. Sel telur yang belum berkembang tampak seperti kelopak bunga. Dalam perkembangan lebih lanjut dapat berisi larva yang siap untuk ditetaskan.
Gambar telur 2.8 Ankylostoma duodenale
      b. Hospes dan distribusi
Hospes definitif kedua cacing Necator Americanus dan Ankylostoma duodinale adalah manusia. Cacing ini tidak mempunyai hospes perantara.
Distribusinya ada di dalam usus halus terutama jejunum dan duodenum. Penyakit yang disebabkan oleh parasit ini disebut Nekatoriasis dan Ankilostomiasis (Soedarto, 1996).
      c.  Patogen dan gejala klinis                  
Gejala klinis yaitu lesu, pucat, tidak bergairah, konsentrasi belajar kurang, pucat, rentan terhadap penyakit, prestasi menurun dan anemia. Di samping itu terdapat eosinofilia (Soedarto, 1996).

2.7 Clonorchis Sinensis
      a. Morfologi
Cacing dewasa berbentuk pipih dan lonjong menyerupaidaun. Bagian posteriornya membulat dan pada integumennya tidak ditemukan duri. Ukuran cacing dewasa 10 –25 x 3 – 5 mm, batilisap kepala lebih besar dari batil isap perut. Testes berlobus dalamtersusun membentuk tandem dan terletak di bagian posterior tubuh. Ovarium terletak di anterior testes pada garis tengah tubuh. Porusgenitalis di depan, dekat pada batil isap perut. Uterus berkelok-kelok berisi telur dan bermuara pada porus genitalis. Fitelaria membentuk folikel-folikel (lembut) dan terletak di lateral tubuh (Widyastuti, Retno. 2002).
Telur Clonorchis Sinensis
Telur parasit ini berbentuk oval seperti kendi, operculum besar,konvek dan bagian posterior menebal. Ukuran telur 28-35 x 12-19 mikron berisi mirasidium. (Onggowaluyo, 2001)
        Gambar 2.9 Telur Clonorchis Sinensis
Klasifikasi Cloronchis Sinensis
Kingdom         : Animalia
Phylum            : Platyhelminthes
Class                : Trematoda
Order               : Opisthorchiida
Family             : Opisthorchiidae
Genus              : Clonorchis
Species            : Clonorchis Sinensi
       b. Hospes dan distribusi
Hospes parasit ini adalah manusia. Selain manusia, hospes parasit ini adalah anjing, kucing, babi, beruang kutub dan pernahdilaporkan juga bahwa parasit ini ditemukan pada angsa. Hospes perantara I parasit ini adalah keong air genus Bulinus,Semisulcospira, Alocinna, Parafossarulus, Tiara atau Hua,sedangkan hospes perantara II adalah family Cyprinidae.
(Onggowaluyo, 2001).
Persebaran cacing ini ditemukan di Cina, Jepang, Korea, danVietnam. Sedangkan di Indonesia, penyakit yang ditemukankebanyakan tidak merupakan infeksi autokton (Bagian Parasitologi FKUI,1998).
       c.  Patologi dan gejala klinis
Gejala yang dialami penderita klonorkiasis adalah akibat dari rangsangan mekanik dan sekresi toksin oleh cacing. Pada awal infeksi terjadi lekositosis ringan dan eosinofilia. Apabila terjadi hiperinfeksi dari jumlah cacing yang banyak maka dapat menimbulkan sirosis, tubuh lemah, ikterus, anemia, berat badan menurun, edema, gangguan pencernaan, rasa tidak enak didaerah epigastrum dandiare. Gejala selanjutnya palpitasi, vertigo dan sepresi mental. Penyakit ini dapat mengakibatkan kematian karena adanya penurunan daya tahan tubuh yang drastis (Onggowaluyo, 2001)
    












BAB III
METODE PRAKTIKUM

3.1 Alat dan Bahan
            3.1.1 Alat
                        a. Mikroskop
                        b. Alat Tulis
                        c. Buku Gambar A4
                        d. Pensil Warna
            3.1.2 Bahan
                        a. Telur Fasciola Hepatica Dewasa
                        b. Telur Hymenolepis Nana      
                        c. Telur Cacing Tambang
                        d. Telur Clonorhis Sinensis
                        e. Cacing Oxyuris Vermicularis
                        f. Cacing Neator Americanus
                        g. Cacing Strongyloides Stercoralis






Menyiapkan Alat dan Bahan
3.2 Skema Kerja
                             
Menggambar cacing dan telur cacing dikertas gambar A4
Melakukan pengamata preparat cacing dan telur cacing
Mewarnai gambar cacing dan telur cacing yang kita amati
Ulang kembali langkah dari skema ke dua sampai ke empat
 























BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan
Telur Fasciola Hepatica
Ukuran : ± 140 x 80 mikron
Bentuk : Operkulum kecil berisi morula
Warna telur : kecoklatan
Tabel 4.1 Hasil Pengamatan Telur Fasciola Hepatica
Telur Hymenolepis nana
Ukuran : ± 47 x  37 mikron
Bentuk : Bulan atau Bujur
Berisi : Embrio Heksakan
Warna telur : Kuning keemasan
Tabel 4.2 Hasil Pengamatan Telur Hymenolepis nan
Telur Cacing Tambang
Ukuran : ± 70 x 15 mikron
Bentuk : Bulat lonjong berdinding tipis
Berisi : Beberapa sel
Warna telur : Merah Muda
Tabel.4.3 Hasil Pengamatan Telur cacing Tambang

Telur Cacing Clonorchis Sinensis
Ukuran : ± 29 x 16 mikron
Bentuk : seperti kendi
Berisi : Mirisidium
Warna telur : coklat
Tabel 4.4 Hasil Pengamatan Telur Cacing Clonorchis Sinensis




Cacing Oxyuring Vermiclaris betina
Ukuran  cacing : panjang ± 3-13mm x 0,4   mm
Warna Cacing : kecoklatan
Dx penyakit : Oksiuriasis atau Enterobiasis
Tabel 4.5 Hasil Pengamatan Cacing Oxyuring Vermiclaris betina

Cacing Necator Americanus
Ukuran : Panjang ± 1 cm
Warna cacing : orange kemerahan
Dx. Penyakit : Nekatorisis dan ankilostomiasis
Tabel 4.6 Hasil Pengamatan Cacing Necator Americanus



Cacing Strongyloides Stercoralis
Ukuran : panjang ± 6,1-8,4 mm.
Warna : orange kecoklatan
Bentuk : Parasiter
Dx. Penyakit : Strongylodiasis
Tabel 4.7 Hasil Pengamatan Cacing Strongyloides Stercoralis

4.2 Pembahasan
                4.2.1 Telur Fasciola Hepatica
Dari hasil yang telah diamati dengan menggunakan mikroskop bahwa telur  Fasciola Hepatica berbentuk operkulum kecil yang berisi morula dan telurnya berwarna kecoklatan.
                4.2.2  Telur Hymenolepis nana
Dari hasil yang telah diamati dengan menggunakan mikroskop bahwa telur Hymenolepis nana berbentuk bulan atau bujur, dengan ukuran telurnya ± 47 x 37 mikron yang berisi embrio heksakan. Terlurnya berwarna kuning keemasan.


                4.2.3  Telur Cacing Tambang
Dari hasil yang telah diamati dengan menggunakan mikroskop bahwa telur cacing tambang memiliki bentuk yang bulat lonjong, berwarna merah muda yang berisi beberpa sel, dimana telur berdinding tipis dengan ukuran telur 70 x 15 mikron.
                4.2.4  Telur Cacing Clonorchis Sinensis
Dari hasil yang telah diamati dengan menggunakan mikroskop menunjukkan bahwa telur cacing clonorchis Sinensis memiliki bentuk seperti kendi yang berwarna kecoklatan berisi merisidium dengan ukuran telur  ± 29 x 16 mikron.
                4.2.5  Cacing Oxyuring Vermiclaris betina
Dari hasil yang telah diamati dengan menggunakan mikroskop menunjukkan bahwa cacing Oxyuris Vermicularis betina memiliki panjang dengan ukuran ± 3-13mm x 0,4 mm, berwarna keokltan serta cacing ini dapat menyebabkan penyakit oksiuriasis atau enterobiasis.
                4.2.6  Cacing Necator Americanus
Dari hasil yang telah diamati dengan menggunakan mikroskop menunjukkan bahwa cacing Necator Americanus memiliki panjang dengan ukuran ± 1 cm, berwarna orange kemerahan, serta cacing ini dapat menyebabkan penyakit necatoriasis dan ankilostomiasis.
                4.2.7  Cacing Strongloides Stercoralis dewasa
Dari hasil yang telah diamati dengan menggunakan mikroskop menunjukkan bahwa cacing Strongyloides Stercoralis dewasa memiliki bentuk parasiter dengan ukuran panjang ± 6,1-8,4 mm. Berwarna orange kecoklatan Serta cacing ini dapat menyebabkan penyakit Strongylodiosis.

















BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
                Dari praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1.      Telur cacing Fasciola Hepatica dewasa memiliki struktur tubuh berukran ± 140 x 80 mikron berbentuk seperti operkulum kecil yang berisi morula dan telurnya berwarna kecoklatan. Dan biasa hidup sebagai parasit pada hewan ternak.
2.      Telur Hymenolepis nana memiliki struktur tubuh berukuran ± 47 x  37 mikron, berbentuk seperti bulan atau bujur berisi embrio hekakan berwarna kuning keemasan.
3.      Telur cacing tambang memiliki struktur tubuh berukuran ± 70 x 15 mikron, bentuk telur bulat lonjong, yang berisi beberpa sel, dimana telur berdinding tipis, berwarna merah muda.
4.      Telur cacing Clonorchis Sinensis memiliki struktur tubuh berukuran ± 29 x 16 mikron, bentuk telur seperti kendi yang berwarna kecoklatan berisi merisidium.
5.      Cacing Oxyuris Vermicularis betina memiliki struktur tubuh dengan panjang ukuran ± 3-13mm x 0,4 mm, lebih  banyak ditemukan didaerah dingin daripada panas serta cacing ini dapat menyebabkan penyakit oksiuriasis atau enterobiasis.
6.      Cacing Necator Americanus memiliki stuktur tubuh dengan panjang ukuran tubuhnya ± 1 cm, banyak terdapat usus halus terutama jejunum dan duodenum. Serta cacing ini dapat menyebabkan penyakit necatoriasis dan ankilostomiasis.
7.      Cacing Strongyloides Steroralis memiliki struktur tubuh berukuran panjang ± 6,1-8,4 mm. Banyak ditemukan didaerah berikim tropis maupun subtropis. Serta cacing ini dapat menyebabkan penyakit Strongylodiosis.
5.2 Saran
a.       Lebih serius dalam mendengarkan arahan dari dosen maupun asisten dosen dalam mengarahkan kegiata praktikum, supaya dapat mengerti dan memahami apa yang harus dikerjakan.
b.      Lebih fokus lagi dalam mengamati cacing dan telur cacing, supaya bisa lebih mengetahui bentuk, struktur tubuh dan warna dari cacing dan telur cacing tersebut.